4 Desa Wisata Peninggalan Zaman Prasejarah

4 Desa Wisata Peninggalan Zaman Prasejarah

Mau berwisata mengunjungi desa wisata tapi bingung di mana? Kamu bisa simak referensinya di artikel ini, unik-unik banget lho!

Desa wisata menjadi salah satu tempat wisata yang menyumbang pendapatan bagi pemerintah daerah. Kondisi desa yang masih asri dengan budayanya yang kental, membuat tempat ini nyaman sebagai tempat short escape.

Ada sekitar 70an desa dengan konsep wisata yang ada dan dikembangkan di Indonesia. Pemerintah sadar bahwa potensi dari desa-desa ini sangat besar sehingga pertumbuhannya pun diperhatikan. Dari sekian banyak desa, beberapa di antaranya menyimpan sejarah peradaban kuno yang masih bisa dilihat sampai sekarang.

4 Desa Wisata Peninggalan Zaman Prasejarah

Setiap desa memiliki kelebihan tersendiri yang ingin ditonjolkan. Demikian pula dengan beberapa desa di bawah ini yang memperlihatkan keindahan batu-batu besar saksi sejarah.

1. Kampung Adat Bena Bajawa

Sesuai dengan namanya, desa di wilayah Flores ini masih mempertahankan adat istiadat dan budaya peninggalan leluhur dengan sangat apik. Suasana alam di tempat ini juga masih sangat asri dan eksotis.

Konsep tata wilayah desa masih menggunakan tata wilayah khas zaman batu besar. Hal ini bisa dilihat dari tata cara pembangunan rumah masyarakat desa yang masih mengikuti kontur tanah. Jadi jika diperhatikan secara seksama dari jauh, tempat ini terlihat berundak.

Ada peninggalan zaman megalitikum yang terkenal dan masih sering dijadikan sebagai bagian dari ritual adat di tempat ini. Benda pertama adalah Watu Lewa, yaitu sebuah batu besar dengan bentuk lonjong. Sedangkan benda kedua adalah Nabe, sebuah batu dengan bentuk menyerupai meja.

2. Desa Kamal

Hidup dengan peninggalan sejarah berupa batu-batu besar yang tersebar di seluruh wilayah desa sudah menjadi pemandangan yang umum. Hal ini nampak jelas di Desa Kamal yang terletak di Jember, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Arjasa.

Salah satu batu peninggalan zaman batu besar yang terkenal adalah batu kenong. Hingga saat ini, sudah ditemukan sekitar 59 batu kenong di tempat ini. Batu ini unik karena menyerupai kenong, atau salah satu instrumen gamelan tradisional.

Sesuai namanya, batu ini memiliki tonjolan, ada yang berjumlah satu dan ada yang dua. Batu yang memiliki satu tonjolan artinya adalah lokasi penguburan. Sedangkan jika memiliki dua tonjolan, maka batu tersebut sering dipakai sebagai alas bangunan. Selain batu kenong, peninggalan sejarah yang nggak kalah unik dari tempat ini adalah tugu batu dan menhir.

3. Kampung Praiyawang

Berada sekitar 69 km arah timur dari Kota Waingapu, Kampung Praiyawang, kampung adat ini akan menyambut semua pengunjung dengan suasana alam yang asri dan magis. Kesederhanaan dan keaslian tempat ini masih sangat terasa.

Sebagai kampung adat, maka peraturan desa wisata di tempat ini juga sangat ketat. Para pengunjung dilarang untuk melanggar batasan yang sudah ditentukan. Salah satunya adalah dilarang untuk memindahkan barang apapun dari tempatnya semula.

Di sini, kamu bisa melihat arsitektur rumah warga yang masih menggunakan cara zaman megalitikum yang menggunakan batu-batu besar. Hal yang sama juga terlihat dari barisan kuburan bangsawan. Ciri khas kuburan bangsawan di tempat ini adalah adanya pahatan yang berbeda di tiap makam. Hal ini karena tiap pahatan mewakili filosofi hidup dari bangsawan yang dimakamkan di dalamnya.

4. Kampung Siallagan

Kampung di dataran Samosir ini dikenal dengan nama Huta Siallagan di dalam bahasa Batak. Masyarakat di kampung ini percaya bahwa umur kampung mereka sudah sangat tua, yaitu ratusan tahun lamanya.

Keunikan dari tempat ini adalah adanya pagar yang menyerupai benteng yang terbuat dari batu besar di sekeliling kampung. Fungsi dari tembok ini jelas untuk melindungi desa seluas 2.400 meter ini dari serangan luar. Tinggi pagar batu ini sendiri sekitar 1,5 – 2 meter.

Konsep desa wisata yang sudah masuk dalam destinasi super prioritas ini tak pernah lekang dari menjaga kearifan lokal. Peninggalan lain yang ada di tempat ini adalah batu yang menyerupai bentuk meja dan kursi. Batu-batu ini nggak digunakan untuk ritual tetapi sebagai tempat hukuman bagi pelanggar aturan.

Belajar sejarah seringkali nggak butuh cara tekstual. Kamu bisa belajar perkembangan peradaban dari masa ke masa bahkan lewat liburan. Dengan mengunjungi desa wisata di atas, kamu bisa mempelajari kehidupan masyarakat di masa lalu dengan cara yang menyenangkan.